“Your Lifetime is a Knife”
–setelah Mary Oliver tentang Keats
Usiamu adalah pisau.
Kamu bisa memakan buah plum,
mengupas matahari yang gelap dan asam;
atau mengacungkannya setiap hari hanya karena kamu bisa;
atau menyembunyikannya setiap kali para premam menjegal lewat;
atau bergabung dengan mereka; atau menatap selamanya
refleksimu di bilah pisau,
mencoba senyum yang berbeda;
atau menusuk orang yang kamu cintai setiap kali
kamu takut; atau dirimu sendiri hanya untuk merasakan
karya Tuhan.
Usiamu adalah pisau.
Kamu bisa memasak makanan untuk anak-anak.
Atau membuat burung origami dan papier-mâché.
Atau bercukur tiga kali sehari.
Atau menato binatang mitos dengan neon biru
melintasi atmosfer jiwa.
Atau berkarat, dalam keraguan, sendirian.
Atau merintis sekolah baru dari bambu.
Atau membuka surat sampah alih-alih menulis kartu pos yang semuanya berakhir, Aku mencintaimu.
Your lifetime is just one knife.
Kamu tidak akan mendapatkan semua potensi musiknya dua kali—atau keheningannya. Pisau-ku menyambut pisau-mu bukan sebagai musuh,
melainkan percikan di atas ranting-ranting yang telah terkumpul
di malam yang dingin, gelap. Pisau-mu menyambut pisau-ku bertahun-tahun dari sekarang
terjebak di ladang yang baru subur.
Beberapa nyawa yang terikat bersama
membentuk bukan ribuan pisau, melainkan semacam mesin. Di depan sebuah rumah sakit,
di hadapan orang-orang berkostum masker bersenjata senjata,
aku melihat seorang nenek dalam kursi roda, matanya
tertutup, memegang lensa ponselnya
seperti pisau di udara. Petir
terlihat seperti tusuk gigi bila dibandingkan.
Usiamu adalah pisau.
Apakah kamu berburu di kebun binatang, memberi makan hanya yang kenyang.
Atau kamu menelusuri setiap fajar
kembali melalui sebuah kuburan
mimpi-mimpi yang bunga-bunganya
memakan orang mati.
–Istirahat dalam puisi, Renee Good, Minneapolis
___________________________________________________
“Peradaban”
–Selamat jalan Alex Pretti
Di setiap momen ada dua pintu.
Satu pada akhirnya menuju laut; yang lain
menuju hutan yang dalam. Aku suka gunung-gunung.
Dan aku telah membaca banyak buku tentang gunung.
Dari puncak gunung yang besar
kamu bisa melihat samudra yang tenang
dan hutan yang megah. Namun aku tidak pernah
benar-benar pergi dari kota, kotaku, kota kita.
Ia terus berkelok-kelok selamanya
di antara kau dan aku.