Writing While Becoming Two: How Motherhood Influenced My Debut Novel

Menulis Sambil Menjadi Ibu Dua Anak: Pengaruh Keibuan terhadap Novel Debutku

Rizky Pratama on 12 November 2025

Selama empat tahun saya menghabiskan waktu menulis dan menyunting novel debut saya, saya terobsesi pada satu pertanyaan: apa artinya berbagi sebuah pikiran? Merasa lapar orang lain sebagai milikmu sendiri, membawa ketakutannya di dada, memikirkan dua suara sekaligus.

Saya pikir saya sedang menciptakan sesuatu yang mustahil, menguji batas-batas keintiman, membayangkan masa depan di mana dua diri mungkin bersatu. Lalu saya menjadi seorang ibu, dan menyadari bahwa saya sebenarnya sudah memilikinya.

Sebagus apapun kedengarannya, tidak ada hal spekulatif tentang berbagi tubuhmu, tentang beralih dari aku menjadi kita. Jika kau memikirkannya, itu adalah keajaiban paling biasa yang ada, yang dialami ratusan juta orang setiap tahun. Keibuan melakukan persis itu. Ia menggambar ulang batas-batas hingga kau tak lagi tahu di mana kau berakhir dan orang lain mulai.

Dalam The Merge, seorang ibu dan anak perempuan menyatukan kesadaran mereka dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan sang ibu dari Alzheimer; sebuah tindakan cinta yang memburamkan garis antara perawatan dan penyerahan. Saya menulis buku ini sebelum saya hamil, mengeditnya saat saya membawa putri saya, dan sekarang buku ini akan masuk ke dunia saat saya menjalani hidup dengan dia dalam pelukan saya. Setiap tahap terasa seperti cara berbeda untuk memahami ide yang sama: bagaimana dua makhluk bisa hidup berdampingan dalam satu kehidupan, bentuknya saling berputar di sekitar satu sama lain. Kisah yang dulu saya bayangkan sebagai fiksi spekulatif telah mengikuti saya melalui penyatuan diri saya sendiri.

Keibuan membuat saya lebih menyadari betapa rapuhnya kita, betapa batas antara kehidupan bisa kabur hingga kita mulai membawa potongan satu sama lain.

Selama draf-draf awal, The Merge bersifat abstrak, sebuah eksperimen pemikiran tentang kemanusiaan, identitas, dan kendali. Ketika saya berada pada tahap penyuntingan, dengan detak jantung lain di dalam saya, konsepnya menjadi nyata. Menyunting sambil membawa dia lebih sulit daripada yang saya kira. Konsentrasi saya terpecah; kalimat yang dulu mudah terurai di tengah pikiran. Saya akan duduk berjam-jam, lelah dalam cara yang meresap ke tulang, merasakan gerakannya saat saya mencoba fokus. Itu adalah pertama kalinya saya memahami apa arti berbagi tubuh sepenuhnya. Keheningan, pemberian diri yang terus-menerus untuk menopang orang lain.

Cerita itu tidak berubah, tetapi pemahaman saya telah berubah. Apa yang dulu saya tulis sebagai pengorbanan kini terasa berwujud, sesuatu yang dikenal dari dalam diri. Tindakan kecil dan tak kasatmata memberi yang diperlukan cinta, dan kegembiraan aneh yang bisa ada dalam memberi itu. Ada sesuatu yang diam-diam luar biasa tentang waktu itu, tentang sebuah kisah yang dulu saya bayangkan menemukan makna baru melalui pengalaman itu sendiri yang tampak seolah-olah meramalkannya.

Minggu-minggu awal keibuan berjalan dalam semacam waktu yang terjeda. Hari-hari saling melipat satu sama lain, ditandai bukan oleh jam, tetapi oleh siklus memberi makan, tidur, dan mendekap. Meskipun kita tidak lagi berbagi satu tubuh, rasanya kita tetap menjadi satu makhluk, ritme kita saling terkait, kebutuhannya menentukan bentuk setiap hari dan malam. Aku akan merasakan lapar putri saya sebelum dia menangis, ketenangannya masuk ke dalam diri saya seolah-olah itu milik saya. Setiap perasaan, setiap momen, seolah-olah lewat melalui kita berdua. Pemisahan itu fisik, tetapi dalam semua arti lain, penyatuan terus berlanjut.

Apa yang telah saya pelajari selama enam bulan terakhir menjadi miliknya adalah ada keindahan dalam pembubaran diri, dalam penyusunan ulang diri secara perlahan di sekitar orang lain. Menjadi begitu dibutuhkan adalah hal yang luar biasa membebani dan sekaligus bersinar.

Ada hari-hari ketika sulit menahan begitu banyak hal. Pemberian tidak benar-benar berhenti; ia hanya berubah bentuk. Beberapa hari, rasanya saya tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan. Waktu diukur dalam kebutuhan. Miliknya, milikku, milik kita. Beberapa malam, dia membangunkan diri bukan karena lapar, tetapi karena ingin dekat. Aku mengangkatnya ke dada dan merasakan seluruh tubuhnya tenang. Desahan kecil, beratnya kepercayaan yang lembut. Aku lelah—sering kelelahan—tetapi ada kedamaian aneh di dalamnya, sebuah kebenaran yang dalam. Dalam gelap, hanya kami berdua, tergantung antara kelelahan dan keajaiban, dan tidak ada tempat lain yang ingin kupilih.

Saat dia menangis, hal itu bergema dalam diri saya seolah-olah tubuh saya masih miliknya. Detak jantung saya meningkat sebelum pikiran saya bisa mengerti; naluri untuk menenangkan segera muncul, total. Kesedihannya terasa pada tingkat sel, milik saya meskipun tidak selalu demikian. Gema kehamilan masih hadir, komunikasi tanpa kata antara tubuh kita yang belum sepenuhnya pudar. Dia menangis, dan saya merasakannya di mana-mana.

Setiap hari, batas-batas antara kita kabur, tidak dalam arti dramatik seperti yang dulu saya bayangkan, tetapi dalam cara yang tenang dan sehari-hari bagaimana kasih sayang memperluas sebuah hidup. Dua kehidupan, dua pikiran, menyatu. Itulah gagasan yang membentuk tulisan saya, dan sekarang, dengan cara yang lebih tenang, hari-hari saya.

Keibuan telah membuat saya lebih menyadari betapa rapuhnya kita, betapa batas antara kehidupan bisa kabur hingga kita mulai membawa potongan satu sama lain.

Sejak saya bisa mengingat, saya telah hidup dalam cerita orang lain—pertama sebagai pembaca, lalu sebagai penulis—belajar bagaimana rasanya membiarkan pikiran orang lain membentuk pikiranmu sendiri. Sebagai seorang anak, saya menghabiskan berjam-jam di dalam buku, muncul sedikit berubah setiap saat, bingung di mana dunia mereka berhenti dan milik saya dimulai. Membaca dan menulis adalah dua tindakan menyerahkan diri: kau masuk ke dalam pikiran orang lain sampai pikiran mereka mulai mewarnai milikmu sendiri; kau membawanya jauh setelah halaman selesai.

Menulis mengajariku bagaimana membayangkan koneksi. Keibuan mengajarkanku bagaimana menjalankannya. Keduanya adalah tindakan penyatuan.

Keibuan juga terasa seperti itu, tetapi tanpa metafora. Versi yang paling lengkap dari itu. Ia menuntut keterbukaan yang sama, penyerahan yang sama. Mencintai seseorang sepenuhnya, baik dalam bahasa maupun dalam kehidupan, berarti menyerahkan diri tanpa syarat, membiarkan kegembiraan, ketakutan, dan kebutuhan mereka mengalir melalui dirimu seolah-olah itu milikmu sendiri.

Saya selalu memahami identitas sebagai sesuatu yang lancar. Mudah berubah, elastis, dibentuk oleh apa dan siapa yang kita cintai. Tetapi keibuan telah menjadikan kebenaran itu fisik. Itu bukan sekadar gagasan, tetapi sensasi: timbal balik tubuh, gerakan konstan antara diri dan orang lain. Dalam The Merge, ibu dan anak menjadi studi tentang identitas; apa yang terjadi ketika cinta memburamkan diri hingga tak bisa dikenali lagi. Saat pikiran mereka menyatu, masing-masing mulai menyerap jejak sang lain, diubah oleh ikatan yang menyelamatkan dan mengubah mereka. Penyatuan yang dulu saya bayangkan di halaman kini terasa seperti sesuatu yang tubuh saya sudah tahu, bahwa mencintai tanpa batas bukan berarti kehilangan dirimu, tetapi hidup lebih luas di dalam dunia.

Sekarang, saat buku saya siap masuk ke dunia, saya merasakan penyatuan yang berbeda, satu penyatuan antara penciptaan dan pembebasan. The Merge tidak lagi milik saya saja; ia akan menemukan kehidupan baru di benak orang lain, bergerak dan membentuk dirinya sendiri dalam cara-cara yang tidak bisa saya kendalikan. Ini adalah pelajaran yang sama yang akan diajarkan oleh keibuan kepada saya: bahwa kamu mencipta, kamu membina, lalu melepaskan.

Baik putri saya maupun novelnya bermula dari dalam diri saya, tetapi keduanya bukan milik saya untuk disimpan. Dan mungkin itulah yang diminta oleh segala bentuk cinta, keberanian untuk melepaskan genggaman. Untuk mempercayai bahwa apa yang telah kamu buat akan membawa jejak dirimu, meskipun ia menjadi sesuatu yang sepenuhnya mandiri.

Menulis mengajariiku bagaimana membayangkan koneksi. Keibuan mengajarkanku bagaimana menjalankannya. Keduanya adalah tindakan penyatuan, dan keduanya, dengan cara mereka sendiri, telah membuatku utuh.

__________________________________

The Merge by Grace Walker is available from Mariner Books, an imprint of HarperCollins Publishers.

Rizky Pratama
Rizky Pratama
Nama saya Rizky Pratama, penulis dan pembaca setia yang tumbuh bersama buku sejak kecil. Saya percaya bahwa setiap cerita memiliki kekuatan untuk membuka wawasan baru dan menginspirasi hidup. Di Shinigami, saya menulis ulasan dan esai sastra untuk berbagi kecintaan saya pada dunia kata-kata.