Aku ingat larut malam di Paris
berbicara panjang lebar dengan seekor anjing dalam bahasa Inggris
tentang masa depan budaya Amerika.
No wonder she kept cocking her head
saat aku terus membahas “film-film musim panas”
dan puisi sesama bangsaku yang tidak tertahankan.
I was standing and she was sitting
di sebuah jalan muram di depan toko daging,
dan kalau dipikir-pikir, dia bisa saja sedang menunggu
for the early morning return of the lambs
dan sisi-sisi daging sapi
ke kait-kaitnya di jendela.
For my part, I had mixed my drinks,
trading in the tulip of wine
for the sharp nettles of whiskey.
Untukku sendiri, aku telah mencampur minumanku,
menukar bunga tulip anggur yang halus
dengan getirnya jelatang wiski.
Why else would I be wasting my time
and hers trying to explain “corn dog,”
“white walls,” and “March of Dimes”?
Mengapa lagi aku membuang-buang waktu bersamanya untuk menjelaskan “corn dog,”
“white walls,” dan “March of Dimes”?
She showed such patience for a dog
without breeding while I went on—
in a whisper now after shouts from a window—
dia menunjukkan kesabaran yang luar biasa untuk seekor anjing tanpa keturunan
saat aku terus berlanjut—
sekarang berbisik setelah teriakan dari sebuah jendela—
about “helmet laws” and “tag sale,”
wishing I had my camera
so I could take a picture of her home with me.
tentang “undang-undang helm” dan “tag sale,”
berharap aku punya kamera
agar bisa mengambil gambar rumahnya bersamaku.
On the loopy way back to my hotel—after some long and formal goodbyes—
I kept thinking how I would have loved
to hang her picture over the mantle,
where my maternal grandmother
now looks down from her height as always,
silently complaining about the choice of the frame.
Di perjalanan pulang yang berkelok menuju hotelku—setelah perpisahan panjang dan formal—
aku terus memikirkan bagaimana aku sangat ingin
untuk menggantung gambarnya di atas mantel mantel,
tempat nenek dari pihak ibuku
sekarang memandang dari ketinggiannya seperti biasa,
secara diam-diam mengeluhkan pilihan bingkai.
Then, before dinner each evening
I could stand before the image of that very dog,
a glass of wine in hand,
submitting all of my troubles and petitions
to the court of her dark-brown, forgiving eyes.
Kemudian, sebelum makan malam setiap malam,
aku bisa berdiri di hadapan gambar anjing itu,
dengan segelas anggur di tangan,
menyerahkan semua masalah dan permohonanku
kepada pengadilan mata cokelat gelapnya yang pemaaf.
__________________________________

Excerpted from Dog Show by Billy Collins. Copyright © 2025 by Billy Collins. All rights reserved. No part of this excerpt may be reproduced or reprinted without permission in writing from the publisher.