“Hemlock, 1956,” a Poem by Victoria Chang

Hemlock, 1956: Puisi karya Victoria Chang

Rizky Pratama on 18 Juli 2026

A wooden door in front of everything. A door
on my country. A door in the lake. My poems

prefer wooden hunting dogs. If I say there is a
door on my heart in the poem, then there is.

Now I can open this door. The door is a short
door though. I must kneel down to crawl in, drag

my body through with my wooden elbows.
I bump into my wooden mother who is also

crawling in my heart. She smiles so large that

her suffering lights up the tunnel. I can now

see my whole heart, not empty as I had thought.
There are no people in it but my mother.

A rotten hemlock tree at the beginning of the
aorta. A eucalyptus at the end. Two black Allen’s

hummingbirds. She tells me to feed my father.
I don’t have the heart to tell her that near the

end, his brain had so many holes, you could look
right through it. I promise her that I will try to love

someone as much as I love her, so she doesn’t
spend her death alone. She hands me a Tupperware

with rice and bok choy to give to my father. I cat
the food because he must be in someone else’s

heart. Next to a fetus. I am lost in my own heart
now. I sit in the corner and count red.

__________________________________

Excerpted from Tree of Knowledge: Poems by Victoria Chang. Published by Farrar, Straus and Giroux. Copyright © 2026 by Victoria Chang. All rights reserved

Pintu kayu di depan segalanya. Pintu di negaraku. Pintu di danau. Puisi-puisku

lebih suka anjing pemburu kayu. Jika aku berkata ada pintu di hatiku dalam puisi itu, maka ada.

Sekarang aku bisa membuka pintu ini. Pintu itu pintu yang pendek, meskipun demikian.

Aku harus berlutut untuk merayap masuk, menyeret

tubuhku melalui dengan siku kayuku. Ibuku yang terbuat dari kayu juga

merayap di hatiku. Ia tersenyum begitu lebar sehingga

penderitaannya menerangi terowongan. Sekarang aku bisa

melihat seluruh hatiku, tidak lagi kosong seperti yang kupikir.

Tidak ada orang di dalamnya selain ibuku.

Pohon hemlock yang busuk di awal aorta. Sebuah eucalyptus di ujungnya. Dua burung kolibri Allen hitam.

Dia menyuruhku memberi makan ayahku.

Aku tidak punya hati untuk memberitahunya bahwa mendekati akhirnya, otaknya memiliki begitu banyak lubang sehingga kau bisa melihat lurus melalui itu.

Aku berjanji padanya bahwa aku akan mencoba mencintai seseorang sebanyak aku mencintainya, agar dia tidak menghabiskan kematiannya sendirian.

Dia memberiku wadah Tupperware berisi nasi dan bok choy untuk diberikan kepada ayahku.

Aku memakan makanan itu karena dia harus berada di hati orang lain.

Di samping seorang janin. Aku tersesat di hatiku sendiri sekarang.

Aku duduk di sudut dan menghitung merah.

__________________________________

Diambil dari Tree of Knowledge: Puisi oleh Victoria Chang. Diterbitkan oleh Farrar, Straus and Giroux. Hak cipta © 2026 oleh Victoria Chang. Semua hak dilindungi

Rizky Pratama
Rizky Pratama
Nama saya Rizky Pratama, penulis dan pembaca setia yang tumbuh bersama buku sejak kecil. Saya percaya bahwa setiap cerita memiliki kekuatan untuk membuka wawasan baru dan menginspirasi hidup. Di Shinigami, saya menulis ulasan dan esai sastra untuk berbagi kecintaan saya pada dunia kata-kata.