Pada hari-hari awal genosida, saya berada di kota Rafah, terlantar, tidur di bawah atap yang saya tidak tahu apakah akan tetap ada menjelang pagi. Bom-bom berjatuhan di sekitar bangunan tempat saya berlindung bersama keluarga saya, dan setiap malam saya membayangkan kemungkinan hal itu semua bisa berakhir seketika. Namun yang paling menakutkan bagi saya bukan kematian semata, melainkan gagasan meninggal sebelum karya-karya saya mencapai dunia—bahwa kisah saya akan hilang bersama saya, dan bahwa perasaan, kenangan, identitas, serta pengalaman manusia saya akan terhapus.
Ada perbedaan antara kematian dan penghapusan identitas. Kematian adalah akhir hidup seseorang, sedangkan penghapusan adalah upaya untuk menghapus eksistensi mereka—untuk memberantas segala sesuatu yang membuktikan bahwa mereka pernah hidup di tempat itu, merasakan, menyayangi, takut, dan berusaha memahami dunia di sekeliling mereka.
Pada saat itu, ketika semua bentuk produksi budaya di Gaza berhenti satu per satu, dan pusat-pusat budaya serta perpustakaan hancur, saya mulai bertanya pada diri sendiri: apa yang akan tersisa dari pengalaman ini jika tidak dituliskan? Siapa yang akan membisikkan suara para penulis dan penyair yang menjalani momen ini? Bagaimana kita dapat menjaga sisi kemanusiaan dari sebuah perang yang berusaha mereduksi manusia menjadi angka-angka belaka? Saya tahu saya menjalani salah satu momen paling brutal yang bisa dihadapi manusia, tetapi saya juga merasakan bahwa kekejaman itu sendiri membawa cerita, emosi, dan pengalaman yang tidak boleh hilang. Dari pertanyaan ini, lahirnya gagasan Gaza Publications.
Gagasan itu tidak lahir pada momen ketenangan atau melalui perencanaan yang matang; sebaliknya, ia muncul dari kedalaman bahaya. Itu adalah upaya kecil untuk berpegang pada sesuatu yang akan menahan seseorang di tempatnya dan mempertahankan keberadaannya pada saat hidup mereka sedang diambil. Saya tidak berpikir untuk mendirikan sebuah rumah penerbitan dalam arti tradisional, melainkan menciptakan sebuah ruang untuk menjaga warisan kita di tempat itu—untuk orang-orang yang, dalam beberapa saat, bisa menjadi angka belaka di antara mereka yang mati. Untuk meninggalkan bukti bahwa mereka pernah ada di sini, dan bahwa mereka telah menjalani kehidupan yang utuh yang melampaui momen kemartiran atau hilang.
Kami terjebak dalam satu momen: selalu dalam bahaya, selalu menunggu, dan selalu berjuang untuk bertahan hidup.
Kami tidak memiliki mesin cetak di Gaza, dan kondisi kerja sangat tidak mungkin. Saya memutuskan bahwa proses percetakan akan dilakukan di luar Gaza, tetapi pekerjaan itu akan dimulai dari dalam Jalur Gaza. Saya membentuk sebuah tim yang terdiri dari seorang editor, seorang korektor, seorang desainer, seorang manajer pemasaran, dan seseorang yang mengawasi pencetakan serta distribusi. Saya tidak mengenal beberapa dari orang-orang ini sebelumnya, tetapi mereka percaya pada gagasan itu dan bersedia berpartisipasi karena mereka merasa ada sesuatu yang perlu diselamatkan.
Kami memulai dengan sarana yang sederhana. Kami merancang logo yang sederhana, membuat halaman media sosial, dan mulai mencari buku-buku yang menangkap pengalaman Palestina pada saat yang krusial.
Bahkan logo Gaza Publications didasarkan pada pengalaman kami dengan konsep waktu. Kami memilih jam pasir, tetapi kami tidak ingin butiran pasirnya mengalir ke bawah. Kami menaruh penyumbat di tengah jam pasir, sehingga butiran tetap terjaga di tempat.
Itu adalah metafora yang paling erat menggambarkan rasa waktu kami selama genosida. Di Gaza, waktu tidak bergerak seperti di bagian lain dunia. Banyak hal yang memberi orang rasa hidup berhenti: pekerjaan, belajar, pertemuan sosial, dan rencana masa depan. Kita tidak lagi hidup antara masa lalu yang bisa diambil kembali dan masa depan yang bisa dibayangkan; rumah-rumah yang menyimpan kenangan kita telah hilang, dan rencana yang memberi makna pada hidup telah berhenti.
Kami terjebak dalam satu momen: selalu dalam bahaya, selalu menunggu, dan selalu berjuang untuk bertahan hidup.
Namun ketidakberdayaan ini tidak berarti kemanusiaan itu sendiri berhenti. Jam pasir mengingatkan kita bahwa manusia mampu, bahkan di saat-saat tersulit, menciptakan makna. Dan menulis memberi momen singkat peluang untuk bertahan, meskipun dunia tidak bisa berhenti dan mendengarkan.
*
Buku pertama kami adalah The Man Who Looked Back karya Amer al-Masri. Itu bukan sekadar tentang pengeboman, tetapi tentang kehidupan batin yang terus berlangsung di bawah pengeboman; tentang ketakutan yang menggigit keluarga dan tidur bersama mereka; dan tentang orang yang berusaha menjaga dirinya tetap memiliki rasa diri meskipun segala sesuatu di sekitarnya mendorongnya untuk kehilangan itu.
Mengapa menulis di saat bahaya? Mengapa orang beralih ke menulis jika setiap momen adalah lemparan dadu dengan kematian?
Pada hari buku itu diterbitkan, saya menerima kabar tragis: putri sepupu saya dan semua anaknya tewas ketika rumah mereka dibom, runtuh menimpa mereka.
Hari itu dipenuhi dua emosi yang sulit didamaikan. Ada sesuatu yang mirip dengan kebahagiaan: kebahagiaan karena sebuah buku telah keluar dari Gaza dan menjangkau dunia, dan karena sebuah cerita Palestina telah menemukan jalannya kepada pembaca. Pada saat yang sama, ada kesedihan yang tidak bisa diungkapkan: hilangnya sebuah seluruh keluarga, dan anak-anak yang tidak lagi memiliki tempat di dunia ini.
Saya tidak tahu bagaimana seseorang bisa membawa perasaan yang bertentangan ini dalam satu tubuh. Bagaimana seseorang bisa merayakan sebuah buku dan kehilangan orang-orang tercinta pada hari yang sama?
Pada saat itu saya memahami bahwa buku yang peluncurannya kami rayakan itu tidak terpisah dari kematian yang mengelilingi kita; ia adalah bagian dari perjuangan yang sama, perjuangan untuk memastikan bahwa hidup manusia tidak hilang tanpa jejak.
Pertanyaan yang terus melekat pada saya saat saya melanjutkan pekerjaan saya adalah: Mengapa menulis di saat bahaya? Mengapa orang beralih ke menulis jika setiap momen adalah lemparan dadu dengan kematian?
*
Setelah itu, kami beralih ke buku kedua, novel I Am at Your Door karya Reham Al-Sabe’.
Novel ini membahas pengalaman perang yang dialami oleh perempuan Palestina. Ia tidak hanya berbicara tentang pengungsian dan ketakutan, tetapi juga tentang rincian sehari-hari yang membentuk martabat seseorang. Novel ini menyinggung bagaimana kekurangan perlengkapan pribadi, seperti pembalut, produk kebersihan, deterjen, dan sampo, berdampak khusus pada perempuan. Barang-barang ini, yang selama ini dianggap biasa dalam kehidupan sehari-hari, terkait dengan martabat, privasi, dan rasa diri ketika tidak ada.
*
Kemudian muncul buku ketiga: The Owner of the Sea Shoe karya penulis Palestina Bisan Natil, sebuah buku harian pribadi berdasarkan pengalaman bekerja dengan anak-anak. Penulis menggambarkan dunia anak-anak di kamp pengungsi: kehilangan rumah, ketakutan akan pengeboman, kelaparan, hilangnya waktu bermain, dan kurangnya kegembiraan. Namun ia juga menyelami rincian-rincian kecil: hubungan seorang anak dengan lingkungan sekitar, dengan rumah yang hancur, dengan antrean di dapur umum, dan dengan kekurangan air.
Menulis tidak bisa menghentikan perang, juga tidak bisa mengembalikan orang-orang yang telah kita kehilangan, tetapi ia bisa menumbuhkan sesuatu dalam diri seseorang ketika segala sesuatu di sekeliling mereka runtuh.
Saat saya menyelesaikan rencana untuk menerbitkan buku ketiga saya, saya kembali dari tempat perlindungan menuju rumah yang dulu pernah menjadi rumah saya. Saya menemukan rumah itu hancur total, tetapi saya kembali ke tempat yang udaranya, jalan-jalannya, dan kenangan-kenangan yang saya kenal dengan sangat baik.
Setiap anak dalam buku itu memiliki cerita yang mereka bawa bersama mereka, tetapi saya juga menemukan bahwa saya pun memiliki cerita saya sendiri—kisah seseorang yang membawa kenangan mereka, hubungan mereka dengan suatu tempat, dan jejak reruntuhan yang ditinggalkan perang di dalam diri mereka.
Pada saat itu saya memahami bahwa kembali bukanlah akhir perjalanan, tetapi awal tanggung jawab baru. Masih ada pekerjaan yang perlu dilakukan—tidak hanya untuk membangun kembali tanah air kita, tetapi juga untuk melestarikan cerita-cerita yang memberinya makna.
Ketiga buku ini adalah tiga suara yang menceritakan satu pengalaman: suara seorang pria, suara seorang wanita, dan suara seorang anak.
Sepanjang proyek ini, kami menghadapi tantangan yang tidak biasa bagi sebuah rumah penerbitan. Internet bisa padam selama berhari-hari, dan kadang-kadang saya kehilangan kontak dengan seluruh tim. Pada suatu kesempatan, komunikasi terputus untuk waktu yang lama, dan ketika pulih, saya mengetahui bahwa mereka mengira saya telah meninggal. Saya sedih karena mereka mengalami momen kehilangan potensial, tetapi saya juga merasakan kelegaan: satu buku telah mencapai dunia. Satu cerita telah muncul dari Gaza sementara kami hidup di bawah ancaman hilang. Saya merasa seolah-olah telah menaburkan benih sebelum saya meninggal.
Tapi saya selamat. Saya kembali ke tim saya, dan kami melanjutkan pekerjaan kami. Buku-buku itu dicetak di Polandia dan menjangkau pembaca melalui titik distribusi di Jerman, Yordania, dan Kairo. Kami tidak mengantisipasi tingkat minat yang besar, tetapi itu menegaskan bagi kami bahwa ada kebutuhan untuk kisah-kisah dan suara-suara ini.
Ketika saya kembali lagi ke rumah lama saya, puing-puing masih ada, tetapi saya melihat sebuah pohon di depan rumah, dan di sampingnya, sebuah tanaman kecil yang tidak tersentuh oleh kehancuran. Saya menatap tanaman itu cukup lama. Saya berpikir: inilah hakikat menulis.
Menulis tidak bisa menghentikan perang, juga tidak bisa mengembalikan orang-orang yang telah kita kehilangan, tetapi ia bisa menumbuhkan sesuatu dalam diri seseorang ketika segala sesuatu di sekeliling mereka runtuh. Ia melestarikan warisan mereka dan menjadi saksi bahwa seseorang pernah berada di sana.
Inilah misi penulis, dan juga misi sebuah rumah penerbitan: menjaga bagi kemanusiaan seorang individu, sebuah bangsa, atau sebuah kelompok yang telah melewati dunia ini, sebelum roda perang dan genosida menggiling semuanya menjadi debu. Karena seseorang bertahan tidak hanya melalui tubuh fisiknya, tetapi melalui makna yang ditinggalkannya.
Gaza Publications adalah sebuah upaya kecil untuk melindungi makna itu.